Terdapat segelintir kanak-kanak yang terpaksa mengorbankan zaman riang menjadi kanak-kanak dengan mencari rezeki demi membantu menyara keluarga yang mengalami kesempitan hidup.

Mungkin pada zaman dahulu perkara ini biasa sahaja dialami oleh semua kanak-kanak yang terpaksa bekerja demi meringankan beban keluarga, namun pengorbanan itu tetap berlaku pada hari ini.

Seperti mana yang dilalui oleh seorang budak lelaki dari negara jiran yang bernama Rehan.

rhmadii_/Instagram

Rehan sanggup berpanas lencun dari dalam kostum watak kartun yang dipakainya kerana pekerjaannya sebagai maskot jalanan yang terpaksa berjalan sejauh 10 kilometer setiap hari demi menghiburkan orang lain.

Kisah Rehan tular di laman Instagram @rhmadii_ atau Rahmadi yang menceritakan kehidupan seharian kanak-kanak ini sebagai penghibur jalanan.

rhmadii_/Instagram

Budak lelaki tersebut terpaksa bangkit seawal pagi untuk menghiburkan orang awam di jalanan sekitar daerah Jalan Gatot Subroto, Kalimantan Selatan, Indonesia.

Di usia muda yang sepatutnya penuh riang melihat orang dewasa bekerja menghiburkan kanak-kanak, Rehan sebaliknya mengambil tugas itu dengan menjadi maskot demi meringankan beban keluarganya yang mengalami kesempitan mencukupkan belanja keperluan harian.

rhmadii_/Instagram

Rehan menggalas tugas memakai pilihan kostum watak-watak kartun terkenal seperti Dora the Explorer, Upin & Ipin serta Spongebob Squarepants.

View this post on Instagram

EDISI KEHIDUPAN…. Setiap hari, Rehan harus bangun pagi-pagi betul agar atraksinya bisa disaksikan oleh para pekerja kantoran dan warga disekitar jalan Gatot Subroto… Bagi sebagian orang, atraksi badut jalanan yang disuguhkan Rehan dinilai ampuh untuk mengusir rasa suntuk di tengah padatnya jalan Gatot subroto. Namun, ada beberapa hal penting yang luput dari pikiran mereka. Pertunjukkan yang mereka anggap menarik itu sebetulnya dilakukan oleh anak di bawah umur, bahkan termasuk dalam kategori eksploitasi anak. Menurut pengakuan Rehan, keputusannya menjadi Badut jalanan didasari oleh motif ekonomi agar ia bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ibunya yang bekerja serabutan hanya mampu mengumpulkan uang untuk membayar biaya sewa kontrakan. Jika ada rejeki berlebih, uang tersebut sengaja disisihkan untuk biaya sekolahnya. “Uangnya lumayan. Bisa buat beli Nasi bungkus untuk dibawa pulang ke rumah,” tutur Rehan Agar atraksinya menarik perhatian banyak orang, Rehan memperlihatkan jogetan kecilnya. Sementara untuk urusan kostum dan kepala boneka, Rehan mengaku selalu mengganti kostumnya setiap hari. Sang penyedia kostum juga menyediakan beberapa pilihan kepala boneka yang didesain menyerupai tokoh-tokoh kartun, mulai dari Dora the Explorer, Upin dan Ipin, hingga Spongebob Squarepants. Kepala dan bajunya saya sewa. Saya tidak tahu biayanya, karena ibu yang membayar,” ungkap Rehan sembari menyeka keringat yang menetes di kelopak matanya. Setiap hari Rehan memang sengaja berangkat pagi-pagi buta, bahkan sebelum mentari pagi bersinar. Selain mengincar mobil-mobil yang terjebak macet, ia ingin menyisihkan waktu di sore hari untuk bermain bola di rumah. Lepas Sholat Isya saya biasanya langsung pulang ke rumah bersama ibu setelah ibu selesai beberes kebersihan halaman Alfamart jl. Gatot subroto kata Rehan Namun saat ditanya, apakah ia dan ibunya nyaman dengan profesi mereka saat ini, Rehan mengaku senang dapat membantu memberikan uang tambahan kepada ibunya. Kendati demikian, Rehan tidak memungkiri bahwa terkadang ia merasa lelah karena harus berjalan hingga sejauh 10 km dari rumahnya.

A post shared by KONTEN INSPIRATIF (@rhmadii__) on

rhmadii_/Instagram

“Wangnya agak lumayan. Boleh buat beli nasi bungkus untuk dibawa pulang ke rumah,” kata Rehan ketika di tanya Rahmadi.

Ketika semua orang di luar begitu gembira dapat memeluk maskot dengan watak kartun kegemaran mereka, Rehan menahan pahit getir dari dalam demi memikirkan keperluan keluarganya.

Maybe you're interested :

Share
Kategori: Asia GLOBAL INSPIRASI

Video Popular